Kisah Angin Dan Monyet Tentang Kehidupan
Disaat waktu yang sulit, biasanya kita selalu mengingat Allah. Namun saat bahagia terkadang kita lupa, bahkan sedikitpun tak ingat. Dibawah ini adalah perumpamaan angin yang berlomba menjatuhkan monyet. Simak baik-baik agar dapat diambil manfaatnya.
Ada tiga angin berlomba menjatuhkan monyet di atas pohon. Yang pertama tampil adalah angin topan. Angin topan mengambil ancang-ancang dan dengan sekuat tenaga dia hembuskan seluruh kekuatannya dengan harapan menjadi pemenang dalam lomba. Namun apa yang terjadi, monyet tetap bertahan di atas pohon.
Berikutnya angin badai yang tampil. Sebagaimana angin topan, dia mengambil ancang-ancang dan menghembuskan dengan kekuatan penuh untuk menjatuhkan monyet. Dan ternyata monyet tetap bertahan di atas pohon.
Setelah kedua angin merasa tidak mampu menjatuhkan monyet, angin yang berikutnya datang adalah angin sepoi-sepoi. Dengan tenang angin sepoi-sepoi meniupkan kelemah lembutannya. Sekali, dua kali, dan ketiga kalinya, brak!!! Ternyata monyet terjatuh karena tertidur.
Makna yang dapat kita ambil, begitu banyak di antara kita yang bertahan dengan segala ujian, bencana, hinaan, kegagalan, kebangkrutan, dan bisa tetap bertahan. Karena pada dasarnya manusia saat terjepit dia bisa mengeluarkan segala potensi yang dimiliki untuk berpegang teguh pada keyakinan, Ibadah menjadi lebih baik, shalat berjamaah di masjid, shalat tahajud, shaum Senin-Kamis, sedekah, bertanya dan minta saran, doanya lebih mantap, sehingga dapat bertahan.
Namun sebagaimana yang banyak kita lihat saat ini. Manusia diberikan segala kemudahan, kecukupan, kekayaan, kedudukan, keberhasilan, tapi dia cenderung lupa pada pegangan. Lalai, ibadah merosot, drastis, shaum ditinggalkan, ke mesjid jarang, bantu orang lain dilupakan, dan akhirnya terjatuh dengan izin Allah.
Semoga kita menjadi hamba Allah yang bersabar saat ujian menimpa dan luar biasa bersyukur saat nikmat menyelimuti.
Dan jangan kita seperti monyet itu yang jika merasa nyaman dan bahagia (karena tertiup angin sepoi-sepoi) menjadi seperti kacang lupa pada kulitnya. Tetaplah bersyukur dan bersabar, karena sebenarnya ujian dan kebahagiaan itu adalah cobaan.
Sumber: inilah.com
|
|
|
Dapatkan Artikel Terbaru Kami

0 komentar:
Posting Komentar
Komentar yang baik yaa . . .